PENGARUH STOK MODAL DAN UPAH MINIMUM KABUPATEN TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA PADA UKM DI KABUPATEN TASIKMALAYA PERIODE TAHUN 2003-2008 (Studi Kasus pada Industri Komoditi Unggulan )

Desember 15, 2009 pukul 7:10 am | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh stok modal dan upah minimum Kabupaten terhadap penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Tasikmalaya periode tahun 2003-2008.

Data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data semesteran selama 6 tahun yang bersifat sekunder. Data diperoleh dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tasikmalaya. Metode penelitian yang digunakan adalah model Regresi Linier Berganda dengan alat analisis: koefisien determinasi (R2), uji t, uji F, heteroskedastis, uji normalitas, masalah serial korelasi dengan Durbin Watson, dan masalah multikolinier menggunakan program perhitungan Eviews dan analisis elastisitas.

Dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa 97,93 % penyerapan tenaga kerja pada industri bordir di Kabupaten Tasikmalaya dipengaruhi oleh stok modal dan upah minimum Kabupaten sedangkan sisanya 2,07 % dipengaruhi oleh faktor lain (misal teknologi) diluar model tersebut. Untuk penyerapan tenaga kerja pada industri bambu di Kabupaten Tasikmalaya sebesar 99,51 % sedangkan sisanya sebesar 0,49 %. Sedangkan untuk penyerapan tenaga kerja pada industri pandan di Kabupaten Tasikmalaya sebesar 60,39 % dan sisanya 39,61 %. Dan untuk penyerapan tenaga kerja pada industri mendong di Kabupaten Tasikmalaya yaitu sebesar 98,74 % sama halnya dengan industri bordir, bambu dan pandan, industri mendong juga dipengaruhi oleh stok modal dan upah minimum Kabupaten sedangkan sisanya sebesar 1,26 % di pengaruhi oleh faktor lain (teknologi) yang tidak dijelaskan secara rinci dalam penulisan Skripsi ini.

Pengaruh stok modal pada industri bordir, bambu, pandan dan mendong berpengaruh signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja. Upah minimum pada industri bordir berpengaruh negatif dan tidak signifikan, upah minimum pada industri bambu dan mendong berpengaruh positif dan signifikan, sedangkan untuk upah minimum pada industri pandan berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja.

Kata kunci : Stok Modal, Upah Minimum, Tenaga kerja.

Isi jurnal lengkap,download link di bawah ini :

JB K 909 pakai

PENGARUH PRODUK DOMESTIK BRUTO (PDB), SUKU BUNGA DAN INFLASI TERHADAP TABUNGAN DI INDONESIA PERIODE TAHUN 1985-2007

Desember 15, 2009 pukul 7:07 am | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

ABSTRAK

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya pengaruh produk domestik bruto, inflasi, tingkat bunga terhadap tabungan di Indonesia selama periode tahun 1985-2007.

Alat analisis yang digunakan adalah analisis regresi dan korelasi beserta pengujiannya. Hasil penelitian yaitu berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data mengenai pengaruh inflasi, suku bunga dan Produk Domestik Bruto (PDB) terhadap tabungan di Indonesia periode 1985-2007, maka diperoleh kesimpulan bahwa berdasarkan hasil pengolahan dan analisis data mengenai pengaruh inflasi, suku bunga deposito dan Produk Domestik Bruto (PDB) terhadap tabungan di Indonesia periode tahun 1985-2007, maka diperoleh bahwa hasil analisis yang dilakukan sesuai dengan hipotesa yaitu Produk Domestik Bruto dan tingkat suku bunga berpengaruh positif terhadap tingkat tabungan, sedangkan inflasi berpengaruh negatif terhadap tingkat tabungan dan signifikan pada taraf 5%.

Diketahui pula besarnya koefisien determinasi adalah 82,2% (R2 = 0,822), artinya besarnya pengaruh inflasi, suku bunga dan Produk Domestik Bruto (PDB) terhadap tabungan adalah sebesar 82,2%, sedangkan sisanya 17,8% dipengaruhi oleh variabel lain (ceteris paribus). Setiap perubahan PDB, suku bunga, inflasi (naik/turun) sebesar 1% akan mengakibatkan perubahan (naik/turun) pada volume tabungan sebesar 1,529 (akibat PDB) dan 0,001934 (akibat suku bunga) dan 0,0008200 (akibat inflasi).

Kata Kunci: PDB, Suku Bunga, Inflasi, Tabungan

Isi jurnal ada pada link di bawah ini :

JB K 709 pakai

ANALISIS KAJIAN INDIKATOR PEMBANGUNAN KABUPATEN TASIKMALAYA

April 3, 2009 pukul 4:13 am | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

small1

1. Latar Belakang
Pembangunan daerah sebagai bagian nintegral dari pembangunan nasional dilaksanakan melalui otonomi daerah dan pengaturan sumber daya nasional, yang member kesempatan bagi peningkatan demokrasi dan kinerja daerah yang berdaya guna dan berhasil guna dalam penyelenggaraan pemerintahan, pelayanan masyarakat, dan pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat menuju masyarakat madani.
Pembangunan daerah bertujuan meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat di daerah melalui pembangunan yang serasi dan terpadu baik antar sector maupun pembagunan sektoral dengan perencanaan pembangunan oleh daerah yang efisien dan efektif menuju tercapainya kemandirian daerah dan kemajuan yang merata diseluruh pelosok tanah air.
Pembangunan daerah adalah segenap upaya semua pihak yaitu pemerintah, pelaku ekonomi dan masyarakat dalam pemanfaatan sebaik-baiknya potensi daerah dan potensi lainnya kea rah penciptaan kondisi yang lebih baik. Hasil dari kekayaan daerah digunakan sebagai sumber pembiayaan rutin dan pembangunan, khususnya dalam proyek-proyek yang bersifat fisik dan non fisik, baik yang bersifat langsung maupun penunjang, yang pada akhirnya mampu menciptakan proses pembangunan yan berkelanjutan disegala segi khidupan
Sejalan dengan itu, Tasikmalaya sebagai salah satu daerah yang terdapat di Propinsi Jawa Barat di dalam pelaksanaan proses pembangunannya perlu memperhatikan kondisi-kondisi atau keadaan perekonomian tertentu sehingga dapat terhindar dari keadaan yang membuat daerah tersebut berada dalam kesulitan. Oleh karena itu pada kesempatan ini perlu kiranya suatu kajian terhadap indikator makro pembangunan di Kabupaten Tasikmalaya
2. Maksud
Studi ini dimaksudkan sebagai salah satu upaya memamahami indicator makro pembangunan Kabupaten Tasikmalaya dan kemudian memanfaatkannya sebagai salah satu input dalam perencanaan pembangunan daerah.
3. Tujuan
1. Menganalisis Produk Domestik Regional Bruto
2. Manganalisis sector ekonomi unggulan
3. Manganalisis tenaga kerja dalam kaitannya dengan aktivitas ekonomi
4. Menganalisis investasi dalam kaitannya dengan aktivitas ekonomi
5. Menganalisis pengeluaran pemerintah dalam kaitannya dengan aktivitas ekonomi
6. Menganalisis jumlah keluarga miskin dalam kaitannya dengan aktivitas ekonomi.
4. Metode Penelitian
4.1. Objek Penelitian
Pada penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), investasi, tenaga kerja, pengeluaran pemerintah dan jumlah penduduk miskin Kabupaten Tasikmalaya.
4.2. Teknik Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sekunder yang diperoleh dari Biro Pusat Statistik dan instansi yang terkait dengan data yang diperlukan dalam penelitian ini.
4.3. Alat Analisis
a. Untuk menganalisis Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
1. Pertumbuhan PDRB

Keterangan:
r = tingkat pertumbuhan
= PDRB yang dicari
= PDRB tahun sebelumnya
2. Kontribusi PDRB

Keterangan:
s = kontribusi sector ekonomi
= PDRB sector
= PDRB total
b. Menganalisis sector ekonomi unggulan
Untuk menganalisis sector unggulan dengan menggunakan analisis Location Quotient (LQ) membandingkan rasio suatu variable terhadap variable referensinya pada tingkat Kabupaten dengan rasio variable-variabel tersebut pada tingkat Propinsi.
Rumusnya
Keterangan:
= LQ sektor I disuatu wilayah
= nilai tambah sektor I di tingkat daerah
= total nilai tambah daerah (PDRB)
= nilai tambah sektor I di tingkat propinsi
= total nilai tambah propinsi
LQ 1 berarti daerah tersebut dapat mengekspor karena produksi sector tersebut mencukupi permintaan daerah setempat dan mengalami surplus di dalam produksinya.
LQ = 1 berarti daerah yang bersangkutan dapat memenuhi permintaan daerah tersebut, tetapi produksinya tidak dapat diekspor
c. Menganalisis tenaga kerja dalam kaitannya dengan aktivitas ekonomi
Untuk menganalisis tenaga kerja menggunakan analisis elastisitas dimaksudkan untuk melihat respons tenaga kerja sebagai dampak perubahan pada sector ekonomi (PDRB).
Modelnya :
Ln Li = Ln a + b Ln Y
Keterangan :
Ln Li = jumkah tenaga kerja
Ln Y = PDRB
Ln a = konstanta
b = elastisitas tenaga kerja
d. Menganalisis investasi
Untuk menganalisis investasi dalam kaitannya dengan aktivitas ekonomi menggunakan model sebagai berikut:
I = f(Y)
Keterangan:
I = investasi
Y = PDRB
e. Menganalisis pengeluaran pemerintah
Untuk menganalisis pengeluaran pemerintah dalam kaitannya dengan aktivitas ekonomi menggunakan model sebagai berikut:
G = f(Y)
Keterangan:
G = pengeluaran pemerintah
Y = aktivitas ekonomi (PDRB)
f. Menganalisis jumlah penduduk miskin
Untuk menganalisis jumlah penduduk miskin dalam kaitannya dengan aktivitas ekonomi menggunakan model sebagai berikut :
R = f(Y)
Keterangan:
R = rasio keluarga pra sejahtera terhadap jumlah keluarga
Y = pendapatan perkapita
4.4. Desain Penelitian

Gambar 1. Desain Penelitian

5. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Gambaran umum objek penelitian
a) Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
PDRB merupakan nilai barang dan jasa yang dihasilkan dalam suatu perekonomian (daerah) pada periode tertentu (satu tahun). PDRB dihitung dalam dua cara, yaitu atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada setiap tahun, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan menunjukkan harga pada suatu tahun (tahun dasar). PDRB menunjukkan kegiatan perekonomian yang dilakukan suatu daerah. Untuk mengetahui besarnya PDRB Kabupaten Tasikmalaya dan pertumbuhannya dapat dilihat pada table 1.1
Table 1.1
Produk Domestik Regional Bruto
Atas dasar harga konstan

Tahun PDRB Pertumbuhan
2000 1.289.886,86 –
2001 1.327.475,70 2,91
2002 1.358.846,18 2,36
2003 1.413.021,84 3,99
2004 1.461.655,97 3,44
Sumber: http://www.Tasikmalaya.go.id dan BPS Tasikmalaya (diolah)

Pada tabel 1.1 terlihat bahwa dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2004, angkanya selalu meningkat, begitupun dilihat dari nilai pertumbuhannya. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas perekonomian di Kabupaten Tasikmalaya mengalami peningkatan dan perekmbangan yang positif.
b) Investasi
Pengertian investasi meliputi: 1) seluruh nilai pembelian para pengusaha atas barang-barang dan modal dalam pembelanjaan untuk mendirikan industri-industri, 2) pengeluaran masyarakat untuk mendirikan rumah-rumah tempat tinggal, 3) pertumbuhan dalam nilai stok barang perusahaan berupa bahan mentah, barang yang belum selesai diproses dan barang jadi.
Dalam perekonomian, investasi dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu: 1) investasi otonom, dan 2) investasi terpengaruh. Investasi otonom adalah investasi yang berdasarkan atas tabungan yang nyata. Investasi ini diadakan terutama karena kemajuan teknologi, pertambahan penduduk, pembukaan daerah baru, dan penemuan kekayaan alam baru. Sedangkan investasi terpengaruh adalah investasi yang terjadi secara tidak langsung,
Factor yang mempengaruhi investasi adalah ramalan mengenai keadaan dimasa yang akan datang, tingkat bunga, perkembangan teknologi, tingkat pendapatan nasional, dan keuntungan yang dicapai. Selain itu juga situasi dan kondisi suatu daerah dimana investasi tesebut dimanfaatkan, seperti pada daerah-daerah yang memiliki sumber daya yang melimpah.
Untuk mengetahui besarnya investasi di Kabupaten Tasikmalaya dapat dilihat pada table 1.2.
Pada table 1.2 terlihat bahwa besarnya nilai investasi dari tahun 2000 sampai dengan 2004 menunjukkan peningkatan, sementara jika dilihat dari pertumbuhannya, dari tahun 2001 sampai dengan 2003 menunjukkan peningkatan, sedangkan dari tahun 2003 ke tahun 2004 terjadi penurunan pertumbuhan (1,35%). Hal ini terjadi mungkin disebabkan kondisi perekonomian Kabupaten Tasikmalaya tidak kondusif sehingga investor tidak tertarik untuk menanamkan dananya.
Table 1.2 Investasi dan Pertumbuhannya
Tahun Investasi (trilyun Rp) Pertumbuhan
2000 1,51 –
2001 1,67 10,96
2002 1,93 15,57
2003 2,23 15,54
2004 2,26 1,35
Sumber: www. Tasikmalaya.go.id dan BPS Tasikmalaya (diolah)

c) Jumlah Penduduk Miskin
Jumlah penduduk miskin dihitung dengan menggunakan pendekatan keluarga pra sejahtera satu (KS 1) alas an ekonomi yang bersumber dari hasil pendataan yang dilakukan oleh BKKBN.
Table 13.
Jumlah Penduduk Miskin dan Pertumbuhannya
Tahun Jumlah Penduduk Miskin Pertumbuhan
2000 464.370 =
2001 466.360 0,43
2002 420.574 -9,82
2003 379.283 -9,82
2004 424.591 11,95
Sumber: www. Tasikmalaya.go.id dan BPS Tasikmalaya (diolah)
Dari table 1.3 terlihat bahwa jumlah penduduk miskin dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2003 mengalami penurunan, artinya keadaan ekonomi masyarakat mulai membaik. Akan tetapi pada tahun 2004, jumlah penduduk miskin mengalami peningkatan kembali dengan tingkat pertumbuhan sebesar 11,95%.
d) Jumlah Tenaga Kerja
jumlah tenaga kerja adalah jumlah yang bekerja atau memasuki pasar kerja. Semakin banyak tenaga kerja yang memasuki pasar kerja menunjukkan semakin baiknya kondisi perekonomian. Karena banyak tenaga kerja yang terserap sebagai dampak bertambahnya kegiatan perekonomian yang berdampak munculnya industry-industri baru. Untuk memberikan gambaran mengenai jumlah tenaga kerja (penduduk yang bekerja) dapat dilihat pada table 1.4.
Table 1.4
Jumlah Tenaga Kerja
Tahun Jumlah Tenaga Kerja (orang) Pertumbuhan
2000 564.829 =
2001 590.177 4.49
2002 711.811 20.61
2003 858.513 20.61
2004 762.505 -11.18
Sumber: www. Tasikmalaya.go.id dan BPS Tasikmalaya (diolah)
Pada table 1.4 terlihat bahwa jumlah penduduk yang bekerja dari tahun 2000 sampai dengan 2003 mengalami peningkatan, akan tetapi pada tahun 2004 jumlah penduduk yang bekerja turun menjadi sebesar 762505 orang. Dengan tingkat pertumbuhan sebesar =11,18%. Hal ini sebagai dampak adanya perusahaan yang tutup atau keluar sendiri disebabkan ketidaksesuaian antara pekerjaan dengan gaji yang mereka terima.
e) Pengeluaran Pemerintah
Pengeluaran pemerintah selain mencakup perkiraan pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan. Besarnya pengeluaran pemerintah akan lebih tinggi dibandingkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Untuk memberikan gambaran mengenai besarnya nilai pengeluaran pemerintah dapat dilihat pada table 1.5.

Tabel 1.5
Pengeluaran Pemerintah
Tahun Pengeluaran Pemerintah (Rp) Pertumbuhan
2000 384.591.048.731,77 =
2001 461.956.384.327,89 20,12
2002 460.969.328.807,76 -0,21
2003 500.763.543.604,80 8,63
2004 615.700.000.000,00 22,95
Sumber: www. Tasikmalaya.go.id dan BPS Tasikmalaya (diolah)
Pada table 1.5 terlihat bahwa dari tahun 200 sampai dengan tahun 2001 pengeluaran pemerintah meningkat, sementara tahun 2002 nilainya menurun dengan tingkat pertumbuhan sebesar -0,21%. Selanjutnya tahun 2003 dan 2004 nilainya naik kembali dengan tingkat pertumbuhan masing-masing 8,63% dan 2,95%.
5.2. Hasil Pengolahan Data dan Pembahasan
5.2.1 Hasil Pengolahan Data
1. Anaslisis Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
a. Pertumbuhan PDRB (Laju Pertumbuhan Ekonomi)
Laju pertumbuhan ekonomi merupakan indicator perkembangan/ pembangunan ekonomi sebagai gambaran kinerja perekonomian suatu daerah. Untuk memberikan gambaran mengenai laju pertumbuhan ekonomi per sektor dari tahun 2001 sampai dengan 2004 dapat dilihat pada table 1.6.
Pada table 1.6 terlihat laju pertumbuhan ekonomi sektoral tiap tahunnya berfluktuasi. Hal ini disebabkan antara lain oleh rendahnya efektivitas ekonomi yang dilakukan oleh penduduk/masyarakat Kabupaten Tasikmalaya.
Table 1.6 Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2001 – 2004 berdasarkan harga konstan dalam persen
No. Lapangan Usaha 2001 2002 2003 2004
1 Pertanian 1,77 0,30 3,25 3,89
2 Pertambangan dan Penggalian 6,63 0,39 10,59 2,27
3 Industri Pengolahan 1,12 7,22 3,18 3,05
4 Listrik, Gas dan Air Bersih 1,76 10,86 4,77 5,18
5 Bangunan 2,15 2,41 2,69 4,18
6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 3,28 5,96 4,52 3,95
7 Angkutan & Komunikasi 6,94 3,37 2,59 3,08
8 Keuangan, Persewaan & Jasa 1,69 7,64 1,41 1,95
9 Jasa-jasa 4,83 2,80 2,03 2,13
PDRB 2,91 2,36 3,99 3,44
Sumber: www. Tasikmalaya.go.id dan BPS Tasikmalaya (diolah)
Selanjutya perekonomian Kabupaten Tasikmalaya periode tahun 2000 – 2004 mencapai pertumbuhan rata-rata sebesar 3,18%, pertumbuhan paling tinggi terjadi pada tahun 2003 yaitu sebesar 3,99%. Sektor ekonomi yang pertumbuhannya paling tinggi yaitu sektor listrik, gas dan air bersih dengan rata-rata sebesar 5,64%, sedangkan yang pertumbuhannya terendah adalah sektor pertanian dengan rata-rata sebesar 2,30%. Sementara untuk sektor pertambangan dan penggalian, sektor industry pengolahan, sektor bangunan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor angkutan dan komunikasi, dan sektor keuangan, persewaan dan jasa masing-masing mencapai rata-rata pertumbuhan sebesar 4,97%, 3,64%, 2,86%, 4,43%, 3,99%, 3,17% dan 2,95%. Untuk lebih jelasnya mengenai rata-rata pertumbuhan ekonomi sektoral dari tahun 2001 sampai dengan 2004 dapat dilihat pada gambar 2
Gambar 2. Rata-rata laju pertumbuhan ekonomi
b. Kontribusi masing-masing sektor ekonomi
Kontribusi sektor ekonomi mencerminkan peranan sektor tersebut terhadap kegiatan perekonomian. Kontribusi setiap sektor akan menentukan struktur perekonomian suatu daerah. Kegiatan perekonomian sangat ditentukan oleh potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang tersedia. Selama periode tahun 2000 – 2004 peranan masing-masing sektor terhadap perekonomian Kabupaten Tasikmalaya terlihat dari kontribusi setiap sektor dalam menciptakan nilai tambah pada kegiatan produksi. Kontribusi setiap sektor dalam perekonomian Kabupaten Tasikmalaya dapat dilihat pada table 1.7
Table 1.7 Kontribusi Sektor Ekonomi dalam Perekonomian Kabupaten Tasikmalaya Tahun
2001-2004 berdasarkan harga konstan (dalam persen)
No Lapangan Usaha 2001 2002 2003 2004 2005
1 Pertanian 38,00 37,58 36,82 38,56 36,72
2 Pertambangan dan Penggalian 0,25 0,26 0,25 0,27 0,27
3 Imdustri Pengolahan 6,19 6,09 6,38 6,33 6,30
4 Listrik, Gas, dan Air Bersih 1,14 1,13 1,22 1,23 1,25
5 Bangunan 4,84 4,81 4,81 4,75 4,78
6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 22,95 23,03 23,84 23,96 24,08
7 Angkutan & Komunikasi 4,71 4,90 4,95 4,8 4,86
8 Keuangan, Persewaan & Jasa 3,40 3,36 3,53 3,44 3,39
9 Jasa-jasa 18,51 18,86 18,94 18,56 18,35
Sumber: www. Tasikmalaya.go.id dan BPS Tasikmalaya (diolah)
Selanjutnya sektor yang memberikan kontribusi terbesar pada perekonomian Kabupaten Tasikmalaya adalah sektor pertanian dengan rata-rata sebesar 37,14%, sedangkan sektor yang memberikan kontribusi paling rendah adalah sektor pertambangan dan penggalian. Berkenaan dengan sektor pertambangan dan penggalian Kabupaten Tasikmalaya memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan, karena selama ini sektor tersebut belum banyak dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan Kabupaten Tasikmalaya. Selanjutnya sektor perdagangan, hotel dan restoran memberikan kontribusi rata-rata sebesar 23,57%. Sementara sektor industry pengolahan, listrik, gas dan air bersih, sektor bangunan, sektor angkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa dan sektor jasa-jasa masing-masing memberikan kontribusi rata-rata sebesar 6,26%, 1,19%, 4,80%, 4,86%, 3,42% dan 18,65%. Untuk lebih jelasnya mengenai rata-rata pertumbuhan ekonomi sektoral dari tahun 2001 sampai dengan 2004 dapat dilihat pada gambar 3.
Gambar 3 Kontribusi sektor ekonomi dalam perekonomian
1. Analisis Sektor Ekonomi Unggulan (Location Quotients)
Untuk mengetahui konsentrasi relative beberapa sektor dalam perekonomian dapat digunakan ukuran yang sederhana, yaitu Location Quotiens (LQ). Tujuan analisis LQ untuk mengetahui sektor mana yang merupakan basis, dan mana yang bukan basis. Sektor basis artinya sektor tersebut bias memproduksi bukan hanya untuk kebutuhan wilayah itu sendiri, tetapi juga bias mengekspor (menjual) ke wilayah lain. Sedangkan sektor bukan basis artinya sektor tersebut masih memerlukan impor (membeli) dari wilayah lain. Nilai LQ > 1, artinya sektor tersebut merupakan sektor basis. Nilai LQ Kabupaten Tasikmalaya dapat dilihat pada table 1.8.
Table 1.8 Nilai LQ sektor ekonomi dalam perekonomian Kabupaten Tasikmalaya
Tahun 2001 – 2004 berdasarkan harga konstan (dalam persen)
No Lapangan Usaha 2001 2002 2003 2004 2005
1 Pertanian 2,55 2,59 2,67 2,77 2,76
2 Pertambangan dan Penggalian 0,08 0.05 0,03 0,04 0,04
3 Imdustri Pengolahan 0,18 0,15 0,16 0,15 0,16
4 Listrik, Gas, dan Air Bersih 0,30 0,34 0,59 6,12 0,60
5 Bangunan 1,27 1,49 1,82 1,75 1,68
6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 1,18 1,56 1,31 1,35 1,34
7 Angkutan & Komunikasi 0,75 0,99 1,23 1,16 1,11
8 Keuangan, Persewaan & Jasa 0,80 0,79 1,15 1,08 1,09
9 Jasa-jasa 2,05 2,24 2,56 2,36 2,09
Sumber: www. Tasikmalaya.go.id dan BPS Tasikmalaya (diolah)
Tabel 1.6 menunjukkan sektor pertanian, sektor bangunan, sektor perdagangan, hotel dan restoran serta jas-jasa dari tahun 2000-2004 memiliki nilai LQ lebih besar dari satu, artinya sektor-sektor tersebut merupakan sektor basis yang merupakan andalan Kabupaten Tasikmalaya, bahkan sektor tersebut dapat dijual ke wilayah lain. Sedangkan sektor angkutan & komunikasi serta sektor keuangan, persewaan dan jasa nilai LQ lebih besar dari satu mulai tahun 2002 sampai dengan 2004, sementara sektor yang lainnya memiliki nilai LQ lebih kecil dari satu.
2. Analisis Tenaga Kerja dalam Kaitannya dengan Aktivitas Ekonomi
Untuk melihat respon tenaga kerja terhadap perubahan aktivitas ekonomi (PDRB) menggunakan konsep elastisitas. Konsep ini akan menjelaskan bagaimana derajat kepekaan antara tenaga kerja terhadap perubahan aktivitas ekonomi (PDRB). Dari hasil pengolahan data diperoleh persamaan regresi sebagai berikut:
Ln L = -29,579 + 3,045 Ln Y
Adjusted R2 = 0,65 P-value = 0,06
Dengan menggunakan tingkat kepercayaan 95% ternyata perubahan aktivitas ekonomi (PDRB) tidak signifikan terhadap jumlah tenaga kerja, terlihat dari nilai P-value (0,06>0,05). Hal ini terjadi mungkin saja PDRB terus meningkat, tetapi permintaan tenaga kerja relative terbatas karena ketidakseimbangan antara jumlah angkatan kerja dengan lowongan kerja yang tersedia sehingga jumlah tenaga kerja yang terserap relative sedikit. Koefisien elastisitas tenaga kerja sebesar 3,045, artinya apabila PDRB meningkat 1, maka tenaga kerja akan meningkat sebesar 3,045, ini berarti jumlah tenaga kerja bersifat elastic terhadap perubahan PDRB. Selanjutnya jika dilihat nilai adjusted R2 = 0,65, ini berarti bahwa pengaruh PDRB terhadap jumlah tenaga kerja sebesar 65%, sedangkan sisanya sebesar 35% merupakan pengaruh factor lain.
3. Analisis Investasi dalam Kaitannya dengan Aktivitas Ekonomi
Investasi merupakan variable penting dalam proses pembangunan suatu daerah. Kebutuhan investasi akan mempengaruhi perkembangan dalam pencapaian sasaran pembangunan daerah. Keinginan pemerintah daerah untuk melakukan investasi bergantung pada besar kecilnya aktivitas ekonomi (PDRB) di daerah tersebut. Untuk menganalisis investasi dalam kaitannya dengan aktivitas ekonomi, menggunakan analisis regresi diperoleh persamaan sebagai berikut:
I = -4,582 + 4,74494E-06Y
Adjusted R2 = 0,917 P-value = 0,007
Dengan menggunakan tingkat kepercayaan 95% ternyata PDRB berpengaruh signifikan terhadap investasi, terlihat dari nilai P=value (0,07 < 0,05). Sedangkan nilai adjusted R2 = 0,917, artinya pengaruh PDRB terhadap investasi sebesar 91,7%, sedangkan sisanya sebesar 8,3% merupakan pengaruh factor lain. Karena PDRB berpengaruh signifikan terhadap investasi, ini berarti apabila daerah ingin melakukan investasi terlebih dahulu harus memperhatikan PDRB yang dimiliki daerah itu sendiri, disamping factor lainnya.
4. Analisis Pengeluaran Pemerintah Dalam Kaitannya Dengan Aktivitas Ekonomi

Pengeluaran pemerintah adalah pengeluaran yang dilakukan pemerintah yang meliputi pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan.
G = 1,13194E+12 + 1179946,847 Y
Adjusted R2 = 0,88 P-value = 0,012
Dengan menggunakan tingkat kepercayaan 95% ternyata PDRB berpengaruh signifikan terhadap pengeluaran pemerintah, terlihat dari nilai P-value (0,012 0,05). Sedangkan nilai adjusted R2 = 0,27, artinya pengaruh PDRB terhadap penduduk miskin sebesar 27%, sedangkan sisanya sebesar 73% merupakan pengaruh factor lain. Dengan memperhatikan pengujian statistic ternyata pendapatan perkapita bukanlah satu-satunya yang menentukan jumlah penduduk miskin tetapi masih banyak factor lain, misalnya kesempatan memperoleh pendidikan, kesempatan memperoleh pelayanan kesehatan, kesempatan memperoleh hiburan, dan kesempatan memperoleh rasa aman. Pada dasarnya semua ini menunjukkan status penduduk tergolong miskin atau tidak.
5.2.2 Pembahasan
Perkembangan atau pembangunan suatu daerah selalu ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat/penduduk daerah itu sendiri. Banyak upaya yang dilakukan oleh daerah untuk mencapai tujuan tersebut, diantaranya dengan meningkatkan pendapatan daerahnya (PDRB). PDRB yang merupakan nilai barang dan jasa yang dihasilkan dalam suatu perekonomian pada periode tertentu (satu tahun) adalah tolak ukur keberhasilan suatu daerah dalam menjalankan aktivitas ekonominya. Oleh karena itu setiap daerah berupaya untuk selalu menggali potensi daerah agar mampu meningkatkan PDRBnya. Selanjutnya dengan meningkatnya PDRB (laju pertumbuhan ekonomi) Kabupaten Tasikmalaya dapat membawa efek sebar yang positif misalnya pada terjadinya kegiatan investasi yang akan mendorong semakin pesatnya pembangunan. Selain itu juga dapat dilihat sektor ekonomi yang bias dijadikan sektor basis, artinya sektor tersebut disamping bias memenuhi konsumsi daerah itu sendiri juga bias di jual ke daerah lain. Adapun yang menjadi sektor basis adalah sektor pertanian, sektor bangunan, sektor perdagangan, hotel dan restoran serta sektor jasa-jasa. Hal ini mencerminkan bahwa sektor ekonomi tersebut merupakan sektor andalannya di Kabupaten Tasikmalaya yang dapat diharapkan sebagai sumber daya untuk meningkatkan aktivitas ekonomi.
Berkenaan dengan kegiatan investasi, ternyata tidak hanya PDRB (laju pertumbuhan ekonomi) saja yang mendorong investor untuk menanamkan dananya di Kabupaten Tasikmalaya misalnya ketersediaannya sumber daya alam yang potensial, iklim politik yang kondusive, rasa aman merupakan hal penting yang perlu mendapat perhatian dari pemerintah, sehingga investor akan mendapat kepastian dalam menanamkan dananya.
Pengeluaran pemerintah yang terdiri dari pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan sangat bergantung pada besarnya pendapatan daerah (PDRB), oleh karena itu hendaknya pengeluaran yang dilakukan harus bijaksana, artinya digunakan untuk membiayai pembangunan yang dapat dirasakan oleh masyarakat.
Kondisi tenaga kerja memang bergantung kepada tingkat pertumbuhan ekonomi daerah, akan tetapi besarnya jumlah penduduk yang bekerja ditentukan pula oleh permintaan tenaga kerja, dalam hal ini mereka yang membutuhkan tenaga kerja (perusahaan/industry). Oleh karena itu perusahaan yang ada hendaknya lebih kepada perusahaan yang padat tenaga kerja (Labour intensive).
Jumlah penduduk miskin pada umumnya menjadi masalah di berbagai daerah. Kemiskinan yang terjadi disebabkan antara lain penduduk tersebut produktivitasnya rendah atau pada umumnya tidak mempunyai keahlian yang dapat digunakan untuk mencari pendapatan. Oleh karena itu pemerintha jangan terlalu memperhatikan laju pertumbuhan ekonomi, tetapi juga perlu memperhatikan peningkatan kualitas dari penduduk itu sendiri, misalnya dengan cara memberikan pelatihan keterampilan yang akan menjadi bekal penduduk untuk hidup mandiri tanpa ketergantungan kepada orang lain.
5.3 Kesimpulan dan saran
5.3.1 Kesimpulan
1. Laju pertumbuhan ekonomi merupakan indicator perkembangan/pembangunan ekonomi sebagai gambaran kinerja perekonomian suatu daerah. Perekonomian Kabupaten Tasikmalaya periode tahun 2000 – 2004 mencapai pertumbuhan rata-rata sebesar 3,18%, pertumbuhan paling tinggi terjadi pada tahun 2003 yaitu sebesar 3,99%. Selanjutnya sektor ekonomi yang pertumbuhannya paling tinggi yaitu sektor listrik, gas dan air bersih dengan rata-rata sebesar 5,64%, sedangkan yang pertumbuhannya terendah adalah sektor pertanian dengan rata-rata sebesar 2,30%. Sementara untuk sektor pertambangan dan penggalian, sektor industry pengolahan, sektor bangunan, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor angkutan dan komunikasi, dan sektor keuangan, persewaan dan jasa masing-masing mencapai rata-rata pertumbuhan sebesar 4,97%, 3,64%, 2,86%, 4,43%, 3,99%, 3,17% dan 2,95%.
2. Kontribusi sektor ekonomi mencerminkan peranan sektor tersebut terhadap kegiatan perekonomian. Kontribusi setiap sektor akan menentukan struktur perekonomian suatu daerah. Sektor yang memberikan kontribusi terbesar pada perekonomian Kabupaten Tasikmalaya adalah sektor pertanian dengan rata-rata sebesar 37,14%, sedangkan sektor yang memberikan kontribusi paling rendah adalah sektor pertambangan dan penggalian. Selanjutnya sektor perdagangan, hotel & restoran memberikan kontribusi rata-rata sebesar 23,57%. Sementara sektor industry pengolahan, listrik, gas dan air bersih, sektor bangunan, sektor angkutan & komunikasi, sektor keuangan, persewaan & jasa dan sektor jasa-jasa masing memberikan kontribusi rata-rata sebesar 6,26%, 1,19%, 4,80%, 4,66%, 3,42% dan 18,65%.
3. Untuk mengetahui konsentrasi relative beberapa sektor dalam perekonomian dapat digunakan ukuran yang sederhana, yaitu Location Quotient (LQ). Sektor pertanian, sektor bangunan, sektor perdagangan, hotel dan restoran serta sektor jasa-jasa dari tahun 2000-2004 memiliki nilai LQ lebih besar dari satu, artinya sektor-sektor tersebut merupakan sektor basis yang merupakan andalan Kabupaten Tasikmalaya. Sedangkan sektor angkutan & komunikasi serta sektor keuangan, persewaan dan jasa nilai LQ lebih besar dari satu mulai tahun 2002 sampai dengan 2004, sementara sektor yang lainnya memiliki nilai LQ lebih kecil dari satu.
4. Untuk melihat respon tenaga kerja terhadap perubahan aktivitas ekonomi (PDRB) menggunakan konsep elastisitas. Dengan menggunakan tingkat kepercayaan 95% ternyata perubahan aktivitas ekonomi (PDRB) tidak signifikan terhadap jumlah tenaga kerja, terlihat dari nilai P-value (0,06>0,05). Koefisien elastisitas tenaga kerja sebesar 3,045, artinya apabila PDRB meningkat 1, maka tenaga kerja akan meningkat sebesar 3,045, ini berarti jumlah tenaga kerja bersifat elastic terhadap perubahan PDRB. Selanjutnya jika dilihat nilai adjusted R2 = 0,65, ini berarti bahwa pengaruh PDRB terhadap jumlah tenaga kerja sebesar 65%, sedangkan sisanya sebesar 35% merupakan pengaruh factor lain.
5. Investasi merupakan variable penting dalam proses pembangunan suatu daerah. Kebutuhan investasi akan mempengaruhi perkembangan dalam pencapaian sasaran pembangunan daerah. Dengan menggunakan tingkat kepercayaan 95% ternyata PDRB berpengaruh signifikan terhadap investasi, terlihat dari nilai P-value (0,007<0,05). Sedangkan nilai adjusted R2 = 0,917, artinya pengaruh PDRB terhadap investasi sebesar 91,7% sedangkan sisanya sebesar 8,3% merupakan pengaruh factor lain.
6. Pengeluaran pemerintah adalah pengeluaran yang dilakukan oleh pemerintah yang meliputi pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan. Dengan menggunakan tingkat kepercayaan 95% ternyata PDRB berpengaruh signifikan terhadap investasi, terlihat dari nilai P-value (0,0120,05). Sedangkan nilai adjusted R2 = 0,27, artinya pengaruh PDRB terhadap investasi sebesar 27% sedangkan sisanya sebesar 73% merupakan pengaruh factor lain.
5.3.2 Saran
1. Untuk mendorong perkembangan sektor ekonomi dalam rangka memperkuat fundamental perekonomian Kabupaten Tasikmalaya, perlu adanya keselarasan antara sektor financial dan sektor riil. Artinya masih banyak pelaku-pelaku ekonomi yang belum mampu untuk meningkatkan aktivitas ekonominya disebabkan kurangnya modal (baik modal dana maupun modal keahlian). Oleh karena itu perlu adanya peranan pemerintah dan lembaga keuangan,
2. Penduduk miskin pada dasarnya tidak hanya diukur oleh pendapatan perkapita yang rendah, tetapi juga disebabkan penduduk miskin umumnya tidak mempunyai keahlian (skill) yang baik. Oleh karena itu perlu adanya program pelatihan yang ditunjang dengan lembaga keuangan pemberi kredit, sehigga diharapkan mereka dapat hidup mandiri dan memperoleh penghasilan.
DAFTAR PUSTAKA
Algifari, 1997, Analisis Regresi, teori, kasus dan solusi, BPFE, Jogjakarta
BPS, 1998 – 2000, Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Tasikmalaya
BPS, 2001 – 2003, Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Tasikmalaya
BPS, 2002 – 2004, Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Tasikmalaya
BPS, 2002 – 2003, Produk Domestik Regional Bruto Jawa Barat
BPS, 2002 – 2004, Produk Domestik Regional Bruto Jawa Barat
Davey, K.J, terjemahan Amanullah, dkk, 1988, Pembiayaan Pemerintah Daerah, praktek-praktek internasional dan relevansinya bagi dunia ketiga, Universitas Indonesia, UI-Press.

ANALISIS PENGARUH FAKTOR FUNDAMENTAL MAKROEKONOMI TERHADAP HARGA UMUM (IHK) DI INDONESIA PERIODE 1986-2005

Maret 4, 2009 pukul 4:59 am | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Apip Supriadi, Nanang Rusliana, Iis Agustina

Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Siliwangi

 

 

ABSTRACT

 

The objective of this research is : (a) To know Influence on Fundamental Factor of Macroeconomic on General Price Level (IHK) in Indonesia during of period 1986- 2005, (b) to know the sensitivity level elasticity of general price level  (IHK) on fundamental factor of macroeconomic on general level price (IHK) in Indonesia during of period 1986- 2005.

Data used in this research was times series data It was Annual Report of  Indonesia Bank, Statistical of Economics and Finance Indonesia (SEFI) BI. Method of Research used was Multiple Regression Linear with analysis appliance : correlation analysis (R), coefficient analysis of determinant (R2), and elasticity analysis. while examination taken is test F, test t, test autocorelasion, test of multicolinearity, test normality, test and heteroscedasticity by using calculation of program of EVIEWS.

Pursuant to result analysis and data processing which is writer do, can be pulled by some research results as following

1. GDP, Nominal Rate of Interest (SBI), exchange rate, and money supply (M1) have an effect on significan, while Crude Oil Price not significan on general price level (IHK) in Indonesia during of period 1986 – 2005.

2. Elasticity General Price Level (IHK) to GDP, nominal rate of interest (SBI), exchange rate, Crude Oil Price and money supply (M1) in Indonesian during of period 1986 – 2005, for GDP is inelastic with relation which are positive, crude oil price is inelastic with relation direction which are negative, nominal rate of interest is inelastic with negative relation direction, exchange rate is inelastic with relation direction which are positive, while to the money supply (M1) is inelastic with relation direction which are positive.

 

Keyword: macroeconomic fundamental, GDP, Nominal Rate of Interest (SBI), exchange rate, money supply (M1), Crude Oil Price,  general price level (IHK)

ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN ASLI DAERAH DI KABUPATEN TASIKMALAYA PERIODE TAHUN 1994-2005

Maret 4, 2009 pukul 4:55 am | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Apip Supriadi, Iis Surgawati, Saripudin

Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Siliwangi

 

 

 

ABSTRCT

 

The aim of this research is to know (1) how big the influence consume local government, GDRP, sum up resident, component original earnings of area previous year, and the regional development to original earnings of area in Regency of Tasikmalaya period of year 1994-2005. (2) how big influence GDRP, consume local government, tax area of previous year and the regional development to tax of area in Regency Tasikmalaya  period of year 1994-2005. (3) how big influence GDRP, sum up resident, retribution area of previous year and the regional development to retribution of area in Regency  Tasikmalaya period of year 1994-2005. (4) how big the influence consume local government, profit of company area of previous year and the regional development to profit of company of area in Regency Tasikmalaya period of year 1994-2005. (5) how big the influence sum up resident, original earnings of area, total expenditure of local government and regional development to others acceptance of valid area in Regency Tasikmalaya  period of year 1994-2005.

Examination done/conducted by simultan with signifikan of level α = 5%. (1 ) Because prob ( F-Statistik) 0.003597 smaller than α ( 5%) becoming H0 in refusing is inferential hence that: consume local government, GDRP, sum up resident, original earnings component previous year area and the regional development to original earnings of area in Regency Tasikmalaya year period 1994- 2005 that is equal to 0,99%. (2) Because prob ( F-Statistik) 0.000104 smaller than α ( 5%) becoming H0 in refusing is inferential hence that: GDRP, consume local government, previous year area tax and the regional development by simultan have an effect on signifikan to area Iease in Regency Tasikmalaya year period 1994-2005 that is equal to 0,95%. (3) Because prob ( F-Statistik) 0.008356 smaller than α ( 5%) becoming H0 in refusing is inferential hence that: GDRP, sum up resident, previous year area retribution and the regional development by simultan have an effect on signifikan to area retribution in Regency Tasikmalaya year period 1994-2005 that is equal to 0,83%. (4) Because prob ( F-Statistik) 0.000010 smaller than α ( 5%) becoming H0 in refusing is inferential hence that: local government consumption, previous year area company profit and the regional development by simultan have an effect on signifikan to area company profit in Regency Tasikmalaya year period 1994-2005 that is equal to 0,96%.(5) Because prob ( F-Statistik) 0.000138 smaller than α ( 5%) becoming H0 in refusing is inferential hence that: resident amount, original earnings of area, total of local government expenditure regional development by simultan have an effect on signifikan to valid area acceptance others in Regency Tasikmalaya year period 1994-2005 that is equal to 0,95%.

 

Keyword: local tax, local yield, local government expenditure, regional development

ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PDB SEKTOR INDUSTRI DI INDONESIA PERIODE 1990 – 2006

Maret 4, 2009 pukul 4:51 am | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Dede Zainul Zachra, Apip Supriadi, Agna Sofa Ambari

Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Siliwangi

 

 

ABSTRACT

 

            Product Domestic Bruto implication is Product Domestic Bruto which cannot be self-sopporting, equally however the increasing of Product Domestic Bruto will defend on many other factor outside Product Domestic Bruto like Domestic Investment, Foreign Invetsment, Labour and Inflation because factors also influence to go up of Product Domestic Bruto and condition growth of economics in our state. Target of this research is to now how big influence of Domestic Investment, Foreign  investment, Labour and Inflation to Product Domestic Bruto Industries sector in Indonesia period 1990-2006.

            Research method the used isdescriptive method and data the used is data of secondary (series time) while its analyzer is correlation coeffitient (R ), coeffitient determines (R²),statistical test that is: F-test and for thedeviation test of classic assumption that is:  test of autokorelasi, test of  heteroskedastis and test  of multikolinieritas.

 Result of analysis indicates that:  if tested by together that is Domestic Investment, Foreign Invesment, Labour and Inflation in the reality has influence which is significant equal to 95,3% to Product Domestic Bruto Industries sector in Indonesia period 1990-2006.   

 

 

Keyword: domestic investment, foreign  investmen, labour, gross domestic product

ANALISIS FAKTOR FUNDAMENTAL YANG MEMPENGARUHI PENGELUARAN KONSUMSI RUMAH TANGGA DI INDONESIA PERIODE TAHUN 1994 – 2005

Maret 4, 2009 pukul 4:47 am | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Ade Komaludin, Apip Supriadi, Eka Suwartika

Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Siliwangi

 

 

A B S T R A C T

 

The objective of this research was to know: (a) Influence of fundamental factor (national income, CPI and population number) to consumption of household in Indonesia Period 1994 – 2005, (b) sensitivity level consume household to factor (earnings of national, IHK and residents amount) in Indonesia Period 1994 – 2005.

Data used in this research was times series data of BPS. Method Research used model of Linear Multiple Regretion with tools of the analysis were; correlation analysis (R), coefficient of determinasi (R2), and elasticity analysis, test of F, test of t, Test autocorrelation, and test of multicolinearity by using calculation of program of SPSS.

Based on the data analysis, the cone of the research were :

1. National income, CPI and population number expenditure of consumption in Indonesia period of year 1994 – 2005

2.  Elasticity expenditure of household consumption to national income, CPI and population number in Indonesia period 1994 – 2005, for national income and population number is elastic with relation direction which are positive. While for CPI is elastic with relation direction which are positive

 

Key words : National income, CPI and population number

PENGARUH STOK KAPITAL DAN TENAGA KERJA TERHADAP PRODUK DOMESTIK BRUTO SEKTORAL DI INDONESIA PERIODE 1980-2005.

Maret 4, 2009 pukul 4:45 am | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Apip Supriadi, Budhi Wahyu Fitri, Santi Fitriyanti

Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Siliwangi

 

 

 

ABSTRACT

 

 

This research aims is to kow : a). The influence of capital stock and total  labour to total GDP in Indonesia during periode of 1980 – 2005. b). The influence of  capital stock and sectoral labour to sectoral GDP in Indonesia periode of 1980 – 2005. c). The influence of capital stock and sectoral labour to sectoral GDP in Indonesia periode of 1980 – 2005. d). The level sensitivity of GDP to capital stock and labour (sectoral and total) in Indonesia periode of 1980 – 2005.

The writer uses descriptive method and secondary data (time series), besides  tool of analysis is  determination coefficient (R2). Variance test (F test), regression coefficient (t test). While, multicolinearity test, autocorrelation test and heteroskedasticity test are used to examine data validity.

Based on the result of test, it gains R2 value as 0,860, it show how big it does to influence of  capital stock and total labour to total GDP is 86% and the rest is 14% influenced by another factor.

Meanwhile, for mean of sectoral R2 value as 0,676, it show how big it does to influence of capital stock and sectoral labour to sectoral GDP is 67,6% and the rest is 32,4% influenced by another factor. Mean of total-sectoral R2  value as 0,823, it show how big it does to influence of  capital stock and sectoral labour  to total GDP  is 82,3% and the rest is 17,7% influenced by another factor.

From estimation result have to know that total GDP have the elastic to capital stock and total labour. But for sectoral, elasticity mean of  capital stock  value as 0,17 and labour value as 0,18, this matter indicate that sectoral GDP  have inelasticity to capital stock and sectoral labour. For  total – sectoral, elasticity mean of capital stock is 1,85 and labour is 0,94, this matter indicate that  total GDP have the elastic to sectoral capital stock, but for sectoral labour have inelasticity.

 

Keyword: capital stock, total  labour,gross domestic product

PENGARUH UTANG LUAR NEGERI TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI INDONESIA PERIODE TAHUN 1998 – 2004

Maret 4, 2009 pukul 4:41 am | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Dede Zainul Zachra, Apip Supriadi, Gin-gin Purnama

Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Siliwangi

 

 

ABSTRACT

 

Nations expand generally capital deficiency to increase growth of economics. To fulfill capital deficiency, hence a state needs to conduct overseas loan. Overseas debt of private sector and also government aim to increase growth of economics. Pursuant to statement, this research tries to study influence of overseas debt of private sector and government to growth of economics in Indonesia. Model used by Lumadya Adi ( 2003), used in this research with data of time quarterly series which consist of overseas debt of government, overseas debt of private sector, and Gross Domestic Product (GDP).

Method in this research use a descriptive method by using model of econometric and tested by some analyzer of regression. Calculations of statistic use formulation coefficient of determination, test t, test F, test autocorrelation (Durbin- Watson) by using aid appliance calculation of SPSS.

Result of this study show anticipation that there are influence of overseas debt of private sector and government to growth of economics in Indonesia. Result of examination of statistical t show that by partial there are influence which is significant of overseas debt variable of private sector and government to growth of economics in Indonesia. Result of examination of statistical F of show that by together there are influence which is significant of overseas debt variable of private sector and government to growth of economics in Indonesia.

 

Keyword: debt of private sector and government,  growth of economics

ANALISIS PENGARUH TINGKAT BUNGA SBI DAN PRODUK DOMESTIK BRUTO (PDB) TERHADAP PENANAMAN MODAL DALAM NEGERI (PMPN) DI INDONESIA PERIODE 1990 – 2004

Maret 4, 2009 pukul 4:32 am | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Encang Kadarisman, Apip Supriadi, Erni Hidayati
Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Siliwangi

ABSTRACT

The complicated of Investation climate is cowshed by the investation it self, it can’t be depend on self. On the other hand how ever the investation is good it will be depend to other many factors, out of investation region such as interest rate of SBI and Gross Domestic Product. Because the factors ore very importance to some one make decision when they do investment and condition of economic growth in this our country.
The aim of this research is to know how about the influence interest rate of SBI and GDP to Domestic investment in Indonesia 1990 – 2004 periods are.
The data of this research used secondary of time series in 1990 – 2004, the released by the annual report of Indonesia Bank (BI) and report of statistic anther Indonesia (BPS) within 1990 – 2004 periods.
Based on analysis and data processing is the used can be concluded they are.
1. Influence of interest rate of SBI to Domestic Investment the result is not significant
2. Influence of Gross Domestic Product (GDP) to Domestic Investment the result is significant
3. Influence of interest rate SBI, Gross Domestic Product (GDP) to Domestic Investment in Indonesia the result is significant.

Keyword: interest rate SBI, Gross Domestic Product (GDP), Domestic Investment

Laman Berikutnya »

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.